Khawatir Ketenangannya Terganggu, Mas Bule Datang ke Musholla Al-Hidayah Ungasan, Ending-nya Justru Bikin Adem

UNGASAN, BALI – Berawal dari kekhawatiran akan terganggunya ketenangan lingkungan, seorang warga non-Muslim yang akrab disebut Mas Bule justru mendapatkan pengalaman berkesan setelah bertemu langsung dengan Panitia Pengembangan dan Pembangunan Musholla Al-Hidayah Ungasan. Pertemuan tersebut berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, sekitar pukul 13.00 WITA. Sebelumnya, Mas Bule menghubungi Ketua Panitia, H. Suryono, untuk menanyakan rencana penggunaan pengeras suara pada bangunan musholla yang akan dikembangkan.

Sebagai calon warga yang akan tinggal sekitar 200 meter dari musholla, ia memiliki kekhawatiran tersendiri. Pengalamannya tinggal di Jakarta membuatnya ingin memastikan bahwa aktivitas ibadah nantinya tetap memperhatikan ketenangan masyarakat sekitar. Namun, siapa sangka? Kekhawatiran tersebut justru menjadi awal sebuah kisah indah tentang toleransi.

Mas Bule datang dengan membawa kue dan disambut hangat oleh H. Suryono bersama Ustadz Anas, H. Mulyono, Bapak Akhmad, dan H. Juweni.

Menariknya, Mas Bule bahkan bersedia duduk bersila di teras depan musholla, berbincang santai bersama panitia dalam suasana penuh kekeluargaan.

Dalam pertemuan tersebut, panitia menjelaskan bahwa Musholla Al-Hidayah Ungasan selama ini menggunakan pengeras suara secara terbatas agar tidak mengganggu ketenangan lingkungan. Komitmen menjaga keharmonisan tersebut akan terus dipertahankan meskipun bangunan musholla nantinya mengalami pengembangan.

Mendengar penjelasan itu, Mas Bule merasa senang dan lega.

Bagi H. Suryono, kedatangan Mas Bule justru merupakan sesuatu yang sangat positif. Panitia menyambut baik siapa pun yang ingin bertanya dan berdialog secara langsung, tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang.

Lebih baik datang untuk bertanya daripada membangun prasangka tanpa mengetahui keadaan sebenarnya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui keterbukaan, komunikasi, dan sikap saling menghormati.

Musholla Al-Hidayah Ungasan bukan sekadar membangun tempat ibadah, tetapi juga terus membangun jembatan persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Bali. 

Karena sejatinya, kerukunan dimulai dari kesediaan untuk saling mendengar dan memahami. (rek.AB)

Yayasan Baitul Hidayah Ungasan 2026

Translate »